Dari Teknik ke Rekayasa, Perubahan Nama Prodi Tuai Beragam Tanggapan
- calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BSDHITZ,Jakarta — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melakukan perubahan pada penamaan sejumlah program studi di perguruan tinggi. Salah satu perubahan yang menarik perhatian adalah penggunaan istilah “Rekayasa” sebagai pengganti kata “Teknik” yang selama ini lebih dikenal oleh masyarakat.
Perubahan istilah program studi Teknik menjadi Rekayasa menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan mahasiswa. Sebagian mahasiswa khawatir pergantian nama tersebut akan memengaruhi mata kuliah yang dipelajari, gelar yang diperoleh setelah lulus, hingga prospek kerja di masa depan.
“Saya sudah terbiasa mendengar istilah Teknik Sipil dan Teknik Mesin, jadi cukup kaget ketika istilahnya berubah menjadi Rekayasa. Selain itu, istilah Teknik juga sudah sangat dikenal masyarakat, sehingga mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan penyebutan yang baru,” ujar Viona, salah satu mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian nomenklatur program studi agar lebih mencerminkan bidang keilmuan yang dipelajari mahasiswa. Menurut Kemdiktisaintek, istilah Rekayasa dinilai lebih mewakili proses perancangan, pengembangan, serta penerapan teknologi dalam berbagai sektor kehidupan.
Meski nama program studi berubah, mahasiswa tidak perlu khawatir. Materi perkuliahan, kompetensi lulusan, dan proses pembelajaran tetap berjalan seperti sebelumnya. Perubahan ini hanya berfokus pada penamaan program studi dalam sistem pendidikan tinggi dan tidak mengubah substansi pembelajaran yang ada.
Sejumlah perguruan tinggi mulai melakukan penyesuaian administrasi serta menyiapkan sosialisasi kepada mahasiswa. Langkah tersebut dilakukan agar proses transisi berjalan lancar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di lingkungan akademik maupun masyarakat luas.
- Penulis: Nakila khoirun nisa
- Editor: Ana Suryana

Saat ini belum ada komentar