Dolar Mengamuk ke Level 17.300, Pemerintah Siapkan Dana “Darurat”
- calendar_month Senin, 27 Apr 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BSDHITZ, Jakarta – Nilai tukar rupiah mengalami volatilitas tinggi dalam sepekan terakhir. Pada Jumat (24/4/2026), rupiah sempat tertekan tajam hingga menyentuh Rp17.338 per dolar AS pada 23 April, yang merupakan titik terendah sepanjang masa. Namun, pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2026), rupiah mulai menunjukkan penguatan tipis sebesar 18 poin ke level Rp17.211 per dolar AS.
Penguatan ini dipicu oleh sentimen positif global, khususnya adanya proposal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan dapat menstabilkan harga komoditas. Meskipun masih berada di kisaran Rp17.200-an, para analis melihat adanya potensi penguatan lanjutan apabila ketegangan geopolitik terus mereda.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga kondisi global yang sedang tidak stabil. Konflik di berbagai wilayah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan membuat dolar AS menjadi aset “safe haven” bagi investor. Hal inilah yang menyebabkan rupiah mengalami tekanan paling berat pada Jumat (24/4/2026).
Sebagai langkah antisipatif, pemerintah telah menyiapkan dana darurat sebesar Rp420 triliun. Dana ini akan digunakan untuk menjaga stabilitas harga barang di pasar agar tidak mengalami kenaikan secara drastis.
“Intinya, jangan panik hanya karena liat angka nominalnya doang. Fundamental ekonomi kita itu masih kokoh, bahkan salah satu yang terkuat di kawasan Asia saat ini. Kita punya bantalan dana yang cukup besar buat jagain daya beli masyarakat,” ujar Purbaya Yudhi Sadewe di Jakarta.
Bank Indonesia (BI) juga mencatat cadangan devisa sebesar USD 148,2 miliar per akhir Maret 2026. Cadangan ini telah digunakan untuk melakukan intervensi di pasar guna menahan pelemahan rupiah. Meskipun pada (27/4/2026) rupiah mulai menunjukkan penguatan ke level Rp17.211, tantangan ke depan masih cukup besar, terutama jika kondisi global semakin tidak menentu.
Dengan demikian, efektivitas intervensi dan kekuatan cadangan devisa akan sangat menentukan kemampuan rupiah dalam menghadapi tekanan dolar AS, terutama jika konflik global belum mereda. Namun, hingga Senin (27/4/2026), rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara bertahap.
- Penulis: Nakila khoirun nisa
- Editor: Nadia syakira aurellia

Saat ini belum ada komentar