AI Membantu Belajar, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Cara Berpikir Manusia
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BSDHitz, Tangerang Selatan — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara pelajar dan mahasiswa belajar. Kini, banyak mahasiswa memakai AI untuk mencari materi, membuat rangkuman, menerjemahkan informasi, hingga menyusun tugas dengan cepat. Namun, penggunaan AI yang berlebihan juga mulai memengaruhi cara berpikir mahasiswa.
Hal itu disampaikan Divia Raj, mahasiswa semester 2 Jurusan Manajemen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), dalam diskusi online bersama jurnalis BSDHitz pada Kamis (22/05). Menurutnya, mahasiswa tidak boleh terlalu bergantung pada jawaban instan dari AI.
“Dunia modern memang lebih mudah untuk mencari informasi di AI, namun beberapa mahasiswa tidak memanfaatkan AI dengan baik. Ketika kita presentasi, banyak mahasiswa yang menjawab pertanyaan melalui AI tanpa mencoba mencari jawaban menggunakan pemahamannya sendiri,” ujar Divia.
Ia menilai dunia kerja saat ini lebih membutuhkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama tim, dan kemampuan beradaptasi dibanding sekadar kemampuan menghafal materi.
Selain itu, banyak mahasiswa mulai terbiasa menerima jawaban instan tanpa memahami isi materi secara mendalam. Menurutnya, kebiasaan tersebut bisa menurunkan kemampuan analisis dan minat membaca sumber akademik.
“Jika kita tidak memahami cara penggunaan AI dengan baik dan bijak, kita akan kalah oleh AI karena kita tidak mengisi otak dengan informasi akademik melalui membaca buku, jurnal, dan berdiskusi,” jelasnya.
Selain membahas teknologi, Divia juga menyoroti kondisi mental pelajar. Ia mengatakan banyak mahasiswa merasa harus terus produktif dan mencapai banyak hal dalam waktu singkat.
Menurutnya, pendidikan modern tidak boleh hanya fokus pada prestasi akademik. Mahasiswa juga perlu belajar mengelola tekanan dan membangun pola pikir sehat.
Divia juga mengajak mahasiswa untuk lebih aktif berdiskusi, praktik lapangan, dan mempelajari studi kasus. Ia menilai metode belajar seperti itu lebih relevan dibanding metode satu arah yang hanya berfokus pada teori.
- Penulis: Aisyah Nurutami

Saat ini belum ada komentar