AS Blokade Selat Hormuz, Ekonomi Indonesia Terancam “Double Blow”
- calendar_month Senin, 20 Apr 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BsdHitz, Islamabad – Harapan dunia untuk melihat pendinginan tensi di Timur Tengah sirna setelah meja perundingan di Islamabad, Pakistan, ditinggalkan begitu saja tanpa hasil pada Minggu, 12 April 2026. Pertemuan tingkat tinggi yang semula diharapkan menjadi jalan damai antara Amerika Serikat dan Iran tersebut justru berakhir dengan kebuntuan diplomasi yang fatal. Alih-alih kesepakatan damai, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merespons kegagalan tersebut dengan mengeluarkan titah keras untuk memberlakukan blokade total di Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran paling vital bagi pasokan energi global.
Keputusan sepihak Gedung Putih ini memicu efek domino yang merambat cepat hingga ke Indonesia. Meski secara geografis terletak jauh dari hiruk-pikuk Teluk Persia, Jakarta mulai merasakan dampak nyata dari ketegangan tersebut. Kebijakan blokade ini memicu ancaman eksistensial bagi ekonomi nasional, di mana Indonesia kini resmi berdiri di ambang skenario “Double Blow” atau pukulan ganda yang mematikan bagi stabilitas keuangan negara.
Pukulan pertama terlihat dari nilai tukar Rupiah yang tersungkur ke titik nadir terendahnya sepanjang sejarah akibat ketidak pastian pasar global. Sementara itu, pukulan kedua muncul dalam bentuk hantu inflasi yang mulai bangkit, mengancam daya beli masyarakat yang baru saja mencoba pulih. Kegagalan diplomasi di Islamabad kini bukan lagi sekadar berita luar negeri, melainkan ancaman langsung terhadap isi dompet rakyat Indonesia yang harus bersiap menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok akibat terganggunya jalur distribusi minyak dunia.
- Penulis: Mellinda
- Editor: Neti Setiyawati

Saat ini belum ada komentar